24 Maret 2021

BARACK OBAMA TUKANG ES KRIM? MASAK SIH?

Seorang guru bertanya kepada muridnya tentang pelajaran sejarah dunia,

“Nak, siapakah Barack Obama itu?”

“Penjual es krim, Pak.”

Guru tersebut terkejut mendengar jawabannya.

Ia bertanya sekali lagi, si murid tetap memberi jawaban yang sama.

Ia kembali mengulang,

“Nak, bukankah biografi Barack Obama ada di buku paket. Apa kamu sudah membacanya?”

“Sudah, Pak. Barack Obama adalah penjual es krim!”

Sang guru semakin emosi mendengar jawaban seperti itu.

Ia perintahkan si murid mengeluarkan buku paket miliknya, dan membuka halaman tentang Obama.

Pada buku si murid, biografi Obama hanya ada satu halaman.

Kisah hidup Obama berhenti pada saat masih remaja, di usia 16 tahun ia memperoleh pekerjaan sebagai pelayan kedai es krim di kota Honolulu, negara bagian Hawaii.

Guru tersebut menyadari ternyata pada buku si murid, halaman kedua hilang. Mungkin tersobek tidak sengaja, atau bisa jadi salah cetak.

Pantas ia tidak tahu kelanjutan sejarah hidup Obama hingga menduduki kursi presiden ke-44 di Amerika.

Guru tersebut benar, ketika ia menganggap bahwa Barack Obama adalah presiden.

Karena kenyataannya memang demikian.

Tetapi muridnya juga benar karena sejauh yang ia baca, Obama adalah penjual es krim.

Jadi dalam cerita tersebut keduanya sama-sama benar.

Lalu mengapa terjadi perselisihan? Karena sang guru tidak menyadari bahwa ada halaman yang hilang.

Begitu ia tahu, akhirnya ia memaklumi jawaban murid tersebut.

Apa yang terjadi dalam kehidupan kita sejatinya juga serupa dengan kisah ini. Hampir semua perbedaan pendapat antara dua orang, sebenarnya hanya disebabkan karena adanya halaman yang hilang.

Cerita tentang es krim Pak Presiden berlaku di banyak bidang kehidupan, termasuk juga di bidang asuransi.

Berapa banyak orang yang masih punya pandangan negatif atau keliru tentang asuransi.

Asuransi bohong.

Asuransi haram.

Asuransi menolak takdir.

Dan lain-lain.

Boleh jadi ‘halaman’ yang Anda baca belum lengkap.

Informasi yang sampai pada Anda belum sempurna sehingga kesimpulan yang Anda ambil menjadi tidak pas.

Jangan menilai terlalu cepat sebelum Anda mendapat informasi yang lengkap.

Silakan hubungi perencana keuangan Anda untuk penjelasan lebih lanjut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar